catatan sipil

" Karena Kita Adalah Buku Yang Berjalan "


Kenapa kita bisa sakit?



“Sungguh menakjubkan perkara orang beriman, di setiap perkaranya adalah kebaikan, ketika ia diberi musibah ia bersabar, dan kerika ia diberi kemudahan ia bersyukur”

Subhanallah ! sakit adalah ‘anugrah’ tersendiri yang diberikan Allah khususnya kepada kita sebagai makhluk yang mulia dan dimana kita di ciptakan dengan sebaik-baik bentuk, tidak ada keraguan atas itu semua karean Allah bersumpah  dengan ciptaanNya dengan tujuan menunjukkan bahwasannya manusia diciptakan dengan sebaik-baik bentuk :
  
Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, dan demi bukit Sinai, dan demi kota (Mekah) ini yang aman, Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” ( At-tin 1-4)

Allah mencipta penyakit tidak lain untuk bahan timbangan kepada manusia, dan tidak ada hal yang Allah ciptakan kecuali ada kebaikan di dalamnya. Kebaikan yang akan di proleh ketika sabar dalam menghadapinya, dan dosa-dosa akan gugur bersamanya.

Rasulullah bersabda : “Segala sesuatu yang menimpa mu’min baik berupa keletihan. Sakit, kegelisahan, sedih, duka, bahkan duri yang menusuk kakinyapasti Allah menghapus kesalahan-kesalahannya”

sakit juga ada ilmunya -
à lihatlah bagaimana Allah memulian manusia di atas makhluk yang lainnya dan itu semua kita tahu akan tabiat buruknya manusia yang selalau tidak luput dari dosa dan kesalahan. Tejadinya sebuah kejadian selalu dan senantiasa melahirkan ilmu dan pembenaran akan ilmu adalah Al-Qur’an karena di sanalah sumber ilmu dari segalanya ilmu, tak hanya ilmuan islam bahkan ilmuan barat mengakuinya dan banyak dari mereka yang masuk islam.
Tiada ada suatu hal yang Allah tetapkan di bumi kecuali adanya ilmu di balik itu semua, terjadinya tsunami, gempa bumi, angin topan bahkan daun yang berguguran  tidak lain dan tidak bukan karena Allah Sang Maha Pemilik

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)" (Al-an’am :59)

Kejadian yang hampir semua orang mengalaminya bukan hanya manusia tapi makhluk hidup yang berada di bumi pasti mengalami yang namanya sakit (Jasmani), terserang penyakit flu, demam berdarah, migren, mual, demam dan sebagainya. Sudah di pastikan terjadinya hal hal tersebut karena virus-virus yang menyerang kita dikarnakan lemahnya diri kita,, dan tidak bisa dinafikkan atas kehendak Allah, bukan karena (secara mutlak) kesalahan manusia itu sendiri. Dan kalau lah atas dasar kesalahan manusia itu sendiri di karnakan perbuatan atau dosa yang di kerjakannya bagaimana dengan bayi-bayi yang terserang berbagai penyakit? Apa karena dosa-dosa dan kesalahan mereka? Kalau lah iya, bagaimana dengan hadist Nabi yang mengatakan yang artinya semua bayi-bayi yang lahir terlahir dalam keadaan fitrah? Bagaimanakah bayi-bayi yang baru lahir mempunya dosa,, dan tidaklah bayi-bayi yang lahir mewariskan dosa-dosa dan kesalahan orangtuanya.Bukankah itu atas kehendak Allah Sang Maha Pemilik?

Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya Allah tidak akan menciptakan suatu jenis penyakit melainkan Allah juga menciptakan penyembuh atau obatnya, kecuali satu penyakit. Para sahabat bertanya : penyakit apa gerangan itu? Rasulullah menjawab : tua”

Semua hal pastilah mengalami sebuah proses, sebagaimana manusia di lahirkan, penyakit pastinya ada gejala dan tanda-tandanya, secara ilmiyah seorang akan terserang penyakit karena system kekebalan tubuhnya yang lemah karena itulah ia terserang penyakit, adapun penyakit keturunan memang benar ada dan dalam ilmu kedokteran sudah dibahas, adapun yang beranggapan kalau penyakit keturunan ada bererti karena nabi adam? Anggapan yang tidak sopan, bagaimana seorang nabi bisa dikatakan sebagai objeknya? Sebuah pertanyaan yang mewakili jawaban “Bagaimana dengan kulit manusia ada yang hitam, kuning, putih? Dan bagaimana dengan warna mata manusia? Kenapa ada biru coklat?

Rasulullah bersabda : Allah tidak menurunkan suatu penyakit melainkan Allah juga menurunkan obatnya”

Semua bisa terjadi karena keturunan nabi adam tidak tinggal di lokasi yang sama, dengan itu faktor lingkungan, makanan, cuaca mempengaruhi hal-hal tersebut baik itu warna kulit dan warna mata dan disitulah penyakit keturunan bermula.
Para ilmuan dan ulama islam dengan teknologi yang begitu canggih dan sederhana bisa mendeteksi penyebab-penyebab terjadinya penyakit, dan mereka bisa menemukan ilmu kedokteran sampai-sampai orang orang eropa mengadopsi ilmu tersebut. Harga akan sebuah ilmu tidak ada harganya.

“Beruntunglah mereka yang mempunya kafaah keilmuan yang cuku, digunakan untuk mencari keridhoan Allah dan bisa menjadi manfaat bagi orang lain”

Ketika kita sudah tidak lagi menganggap adanya faktor-faktor sakit seperti lemahnya sistem kekebalan tuhuh dsb, secara tidak sadar kita meremehkan keilmuan para ulama’ di bidang tersebut. Kebanyakan kemajuan ilmu kedokteran dan kesehatan berasal dari para ulama islam pada abad yang silam.

Kalaulah bukan ilmu, manusia bagaikan bangkai”
“kalaulah bukan ilmu, manusia bagaikan pohon yang tandus”

Terjadinya sakit memang tidak lepas dari diri kita sendiri baik itu karena lalai ataupun kesalahan, tapi itu semua tidak lepas dari qodho’ dan qodar Allah Subhanahu Waa ta’aala.
Adapun dalam Al-Qur’an baik surat Al-Baqarah :10, An-Nur : 50, At-Taubah :125 dsb adalah penyakit hati bukan penyakit jasmani, dan penyembuhannya tertera dalam surat Yunus : 57 dan Al-Isra’ : 82

 “ Dari air kita belajar ketenangan, dari batu kita belajar ketegaran, dari tanah kita belajar kehidupan, kupu-kupu kita belajar merubah diri, dan dari sakit kita belajar kesabaran”

Wallahu A’lam

Aku Cantik dengan Hijab



وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا.
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. 33:36)
Seorang wanita muslimah dan shalihah selalu tampil dengan ketaqwaan dan keimanan, tampil dengan menjaga diri, etika selalu dikedepankan, tidak terlalu berlebihan dalam berhias, tutur katanya lembut dan tidak dibuat-buat, berpikir logis, tahu posisi ketika berintraksi, selalu hadir dalam kecintaan sekelilinginnya, mampu menjaga dirinya, tebungkus dengan akhlaq yang mulia. Kedudukannya bak mutiara di dasar laut, selalu di cari dan di indam-idamkan, tidak seperti mutiara di daratan yang selalu berpindah dari tangan satu ke tangan yang lain. Kedudukan tehormat bagi wanita yang selalu menjaga penampilan dan menjaga diri., tidak berhias seperti kebanyakan wanita lainnya. Menjaga diri adalah kemulian akhalak.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang terbaik akhlaknya.” (HR Tirmidzi, dari abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, diriwayatkan juga oleh Ahmad. Disahihkan Al Bani dalam Ash Shahihah No.284 dan 751). Dalam riwayat Bukhari dan Muslim dari Abdillah bin amr bin Al ‘Ash radhiallahu ‘anhuma disebutkan : “Sesungguhnya sebaik-baik kalian ialah yang terbaik akhlaknya.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ.
“ (Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam syurga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan Itulah kemenangan yang besar.” (QS. 4:13)
Jilbab adalah hijab dan hijab adalah batas. Batas yang menjadikan wanita mulia dan shalihah dihadapan manusia. Ketetapan Allah yang disampaikan oleh Rasulullah kepada para wanita muslimah yang beriman kepada Allah. Jilbab adalah syariat bukan budaya, wajib bagi wanita muslimah untuk mengenakannya. Indah dipandang sejuk dihati dan Nampak akan kecantikannya. Ketika wanita muslimah mengenakan jilbab yang syar’I maka terbataslah dirinya dengan dosa, terhindar dari kenistaan dan kehinaan.
            Jilbab sayr’I seperti apa? Apa ada jilbab tidak syar’i? dengan kemajuan bumi dan tecampurnya budaya-budaya setelah adanya perang dunia 1 dan 2 serta penjajahan dinegara-neragara islam, tak luput pula hal-hal yang berkaitan dengan agama, dan salah satunya adalah jilbab. Sebelum bicara jilbab yang tidak syar’I perlu kita ketahui jilbab yang syar’I seperti apa?
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا.
“Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. 33:5)
Kita lihat para wanita muslimah zaman Rasulullah ketika turun ayat hijab, serentak seluruh wanita muslimah mengambil kain yang ada disekitarnya baik itu oredeng, sarung unutk menutupi bagian yang perlu ditutupi. Aisyah istri Rasulullah berkata : Mudah-mudahan Allah memberi rahmat atas perempuan-perempuan Muhajirat yang dahulu. Diwaktu Allah menurunkan ayat kerudung itu, mereka koyak kain-kain berlukis mereka yang belum dijahit, lalu mreka jadikan kerudung”. Jilbab adalah mahkota bagi wanita, sebagaimana kedudukan mahkota bagai raja. Dahulu raja mulia dengan mahkotanya dikagumi dan disegani, begitu pula dengan wanita. Wanita akan Nampak mulia dan cantik ketika mengenakan jilbabnya. Berbicara sayr’i tak luput dari tindensi ataupun tujuan dari syari’I, tujuna utama dari jilbab adalah untuk menutupi hal-hal yang dilarang oleh agama, seperti ayat di atas jilbaba yang idel yang menjulur kebawah dan menutupi dada,longgar,tidak ketat, dan terfungsi sebagaimana fungsinya. Banyak yang salah pahan akan tindensi tersebut, yang penting menutupi rambut, iya, tapi juga menutupi dada, apalah arti kalau ramput tettutupi sedangkan dada Nampak?.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
“Ada 2 macam penghuni Neraka yang tak pernah kulihat sebelumnya; sekelompok laki-laki yang memegang cemeti laksana ekor sapi, mereka mencambuk manusia dengannya. Dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang, sesat dan menyesatkan, yang dikepala mereka ada sesuatu mirip punuk unta. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya. Sedangkan bau surga itu tercium dari jarak sekian dan sekian” (H.R. Muslim).
            Salah satu ciri jilbba yang tidak syar’i adalah Nampaknya tudung/kumpalan ikatan ramput dikepala seperti punuk unta dan ini yang tidak boleh. Banyak wanita ingin tampil menawan, menarik dan cantik sehingga berbagai tren ia ikuti dari tren berpakaian samapai jilbab. Subhanallah ! tujuan kalian bepakaian untuk menutupi aurat atau hanya sekedar keren-kerenan? Banyak kaum wanita yang masuk neraka, semata-mata karena didalam hidupnya tak mau memakai kerudung kepala atau Jilbab, didalam neraka akan mendapat siksaan yang berat sekali sebagai mana diceritakan Nabi Muhammad dalam hadits beliau yang artinya sebagai berikut. ; “Wanita yang akan digantung dengan rambutnya, sampai mendidih otak dikepalanya didalam neraka, ialah wanita-wanita yang memperlihatkan rambutnya kepada laki-laki yang bukan muhrimnya” Hadits diatas adalah bahagian akhir dari hadits nabi Muhammad yang cukup panjang, yang menceritakan berbagai macam siksa neraka yang diperlihatkan Allah waktu beliau pergi mikraj. Waktu beliau menceritakan nasib kaum wanita yang berat siksanya didalam neraka karena tak mau memakai kerudung kepala atau jilbab didalam hidupnya, beliau meneteskan air matanya.
“ Ketahuilah wahai Saudariku. Kalian adalah mutiara dan lebih dari mutiar, semua orang tertarik terhadap dirimu, jagalah diri kalian dari pandangan mata dan tangan-tangan yang jahil. Islam memuliakan kalian dengan ketetapan-ketetapan yang ada. Janagn anggap itu adalah penjara bagi diri kalian. Tidak ! itu semua bentuk kehormatan islam tehadap wanita. Yang mengajarkan kalian berpakain sehingga cantiklah dirimu, mengajarkan cara berintraksi sehingga mulialah kedudukan kalian, dan begitu banyak yang di ajarkan pada kalian agar kalian menjadi wanita-wanita seperti bidadari.”
Wallahu A’lam

Aku adalah kamu dan kamu adalah aku.





" Seluruh Pertemanan dan Persahabatan yang tidak dilandasi karena Allah pada hari kiamat akan berubah menjadi Permusuhan. ”
{ Ibnu Katsir }
Fulan   : “kamu mau apa? Harta? Harta Saya akan saya bagi dua. Istri? Aku punya dua istri. Silahkan pilih salah satu dan aku akan menceraikannya. Ini semua aku lakukan karena kamu adalah sudaraku.”
fulan    : “tidak. semoga Allah membalas kebaikanmu, memberkahi hartamu, menjadika keluargamu sakinah.”

Tiadalah keindahan perkataan selain Al-Qur’an begitu pula tiadalah kebaikna yang lebih selain berbagi bersama. Jiwa takkan bersatu kecuali karenaNya, tali persaudaraan akan erat ketika cinta kasih bersemi di antara kita.  Teman ! sebuah kata penuh makna yang tiada habisnya.  Manusia takkan pernah berderi  tegak bagaikan kokohan gungung kecuali ada teman yang menemani. Lembut  jiwa halus perkataan adalah karakter teman sejati.
Kau adalah jalanku untuk mencari kebaikan, karena sebaik-baik teman adalah yang selalu menunjukkan jalan kebaikan dan mengingatkan kita kepada Sang Maha Khaliq. Jauh jarak takkan memisahkan kita, karena hati kita tetap satu. Islam adalah agama persaudaraan, kau dan aku di satukan karena agama, jalanku adalah jalanmu karena kita adalah satu.
Teman ! walau aku belum mengenalmu lebih dalam, tapi aku percaya kau adalah kau tidak lebih dari itu. Aku percaya karena tali kebenaran kita satu. Ketika aku lelah kau adalah penyemangat, ketika aku sakit kaulah tarikan untuk aku sembuh, ketika aku sedih kau adalah kegembiraanku.  Indah takkan selalu indah jika kita tidak bersatu, satunya kita adalah tonggak persatuan.
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا.
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai…” (QS. 3:103)
Sebaik-baik pendamping hidup adalah teman yang selalu bersama kita dalam sedih maupun susah. Jiwa takkan menyatu kala ada ego yang menghias, saling memahami adalah obat penyatu. Kau adalah keluarga ke-2 bagiku. Berbagi rasa berbagi cerita dan berbagi ilmu. Keindahan kebersamaan kita takkan besemi indah kecuali dengan keimanan.

Dari Abu Hamzah, Anas bin Malik radiallahuanhu, pembantu Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, beliau bersabda: Tidak beriman salah seorang diantara kamu hingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri. (Bukhori dan Muslim) 
       
Teman adalah hadiah yang berharaga yang tidaka ada nilainya, yang selalu menegur kita takkala salah, menyemangati kita takkala putus asa, selalu berada di samping kita takkala kita jatuh. Semua kan terbungkus dengan kain kesempurnaan takkala di dasari atas keimana dan ketaqwaan kepada Allah.

“Teman adalah mereka yg meski tak bertemu setiap hari pun berbicara sepanjang malam, tapi memiliki ruang di hati selamanya.”





Karena Hafalannya Dia di Tolong Oleh Sang Maha Penolong




وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا.
 “….Dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. 65:3)

Sebuah kisah yang menjadikan hati bergetar, bulu gudu merinding, asama’ Allah berkumandang, kalimat-kalimt suci terucap, hawa-hawa kebenaran senantiasa terpancar sinar akan kebenarannya. Dari sekian kisah yang membuktikan akan keselamatan bagi pemeluk agama kebenaran yang dibawa oleh rasulNya. Kisah nyata yang terjadi di Negara barat, Negara yang dikenal sebagai kawasan penuh dengan maksiat, penuh dengan tindakan kriminal dsb. Adapun kisahnya sebagai berikut :

Tersebutlah di Negara inggris Seorang wanita arab muslimah keluar dari rumanya untuk memenuhi undangan hajatan seorang temannya, detik malahirkan detik menit pun tak mau mengalah begitupun jam yang tidak mau ketinggalan, pertemuan yang menghias dengan canda dan tawa sampai-sampai waktu menunjukkan malam. Pada saat itulah alaram berbunyi yang menandakan waktu sudah malam. begitu kagetnya wanita tersebut dikarnakan ia terlambat pulang kerumahnya. Jarak antara rumah temannya dengan rumahnya cukup jauh dan menghabiskan banyak waktu. Seketika itu ia memberanikan diri untuk pulang kerumah setelah pamit teman-temannya. segera ia menuju ke stasiun kereta api dikarnakan lebih cepat dari pada naik bis.

Dengan keberanian dan seorang diri, berangkatlah wanita tersebut ke stasiun yang menghantarkannya pulang kerumah, diketahui pula seringnya terjadi kasus tindakan criminal di inggris waktu malam hari dan korbannya adalah wanita yang berpergian sendiri. Sampailah wanita tersebut ke stasiun dan dengan sedikit rasa kekhawatiran ia menuju bawah tanah dikarnakan stasiun berada di bawah tanah. Tiba-tiba saja ia merasa takut dan was-was ketika masuk ke stasiun karena ia sering mendenganr dan membaca Koran terjadinya tindakan kriminal berupa pembunuhan di stasiun tersebut diwaktu malam hari. Tangga demi tangga ia lalui hawa teras dingin mencekam, lalu lalang orangpun tidak Nampak hanya ada kesunyian yang ada. Berjalanlah wanita tersebut dengan persaan yang sangat takut gimana tidak. seorang diri wanita pula memasuki kawasan yang sering yang terjadi tindakan pembunuhan.

Sampailah ia diruang tunggu, selintas tidak ada seorang pun yang ada disitu kecuali hanya seorang laki-laki yang duduk di kursi tunggu. Rasa takut bertambah dikarnakan tidak ada seorang yang ada kecuali ia dan seorang laki-laki yang sedang duduk-duduk di kursi, tapi dengan keberania dan keyakinan ia membaca dan mencoba melafadzkan hafalan-hafalan dari Al-Qur’an yang ia pernah hafal dan perlu diketahui wanita tersebut bukanlah wanita yang benar-benar iltizam dengan agama, bahkan bisa dikatakan termasuk orang-orang yang lalai.
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ.
 “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS 13:28)
 Langkah demi langkah ia berjalan dan tak ketinggalan bibir serya mengucapkan ayat-ayat Al-Qur’an sampai ia melewati laki-laki yang duduk dikursi. Lalu wanita tersebut berjalan samapi ia memasuki kereta dan berangkat dengan aman menuju rumahnya. Subhanallah !

Esok harinya terdengan kabar tindakan pembunuhan, seperti biasanya kasus-kasus pembunuhan selalu menghiasa korannya dan tidak ada habis-habisnya. Wanita tersebut membacanya dan betapa terkejutnya bahwa kasus pembunuh terjadi pada malah hari di stasiun yang semalam ia berada di situ. Kejadia terjadi 5 menit setelah ia menaik kereta menuju rumahnya. Subhanallah !!

Berangkatlah wanita tersebut ke kantor polisi dan ia mengatakan : “saya berada di tempat kejadian 5 menit sebelum kejadian.” Dan ternyata sang pelaku sudah tertangkap. Sang wanita meminta kepada polisi untuk mempertemukannya denga sang pelaku karena ia ingin menanyakan sesuatu padanya. Maka polis memperbolehkan ia bertemu dengan pelaku.

Maka terjadi dialog antara wanita dengan pelaku
Wanita   : “ apakah kamu mengingatku atau mengenaliku?”
Pelaku    : “ apakah aku mengenalmu !?”
Wanita   : “aku yang berada di stasiun sebelum terjadi kejadian !”
Pelaku                : “iya.. aku ingat.”
Wanita    : “kenapa kamu tidak membunuhku sebagai ganti orang yang kamu   bunuh?”
Pelaku                : “bagaimana aku membunuhmu !?..dan seandainya aku membunuhmu apa yang akan dilakukan 2 orang besar yang ada disebelamu nantinya !?          

Subhanallah !! Laa haula walaa quwwata Illa Billah !!   
Keyakinan yang membawa ketenangan, ketaqwaan yang membawa pada pintu keluar, bagaimana tidak, hanya melafadzkan ayat-ayat Al-Qur’an bisa membawanya pada keselamatan.
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا.
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar.” (QS. 65:2)
Menyerahkan diri pada Allah adalah jalan kebenaran, sudah selayaknya hamba selalu berserah dan meninta pertolong pada Rabbnya, apalah arti hamba tampa Rabbanya. Tiada kehidupan yang  indah ketika kehidupannya dihiasi dengan ketaqwaan dan keimanan. Kisah yang begitu dramatis dan realistis, seorang wanita yang tidak iltizam dengan agama atas qadarullah bisa selamat dari pembunuhan, bagaiman dengan mereka yang benar-benar iltizam dengan agama? 
إِنَّ وَعْدَ اللَّه حَقٌّ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ.
“Ingatlah, Sesungguhnya kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan di bumi. Ingatlah, Sesungguhnya janji Allah itu benar, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahuinya.” (QS. 10:55)
Sesungguhnya janji Allah adalah nyata, begitu banyak firman-firmanNya yang menerangkan akan jalan kemudahan ketika seorang ingat Rabbnya. Allah senantiasa mengingat kita ketika kita tidak lalai denganNya dan selalu mengingatNya.



Kenapa Harus di Awali dengan Pacaran?


         Di sebuah SMA 1 di daerah jawa timur, ada sebuah kelas yang begitu sepi dan tenang tiba-tiba saja terjadi kegaduhan dan hampir-hampir mengakibatkan perkelahian, Kenapa? pekelahian yang spektakuler, bukan antar murid dengan murid, tapi seorang guru dengan murid. waktu itu murid tersebut menanyakan : "ustadz pacaran itu boleh ga?" sang guru menjawab : "itu haram !"  ketika itu pula murid itu begitu marahnya dan hampir-hampir memukul sang guru.

        Ironis dan sunguh ironis, kondisi kelas yang harusnya di warnai dengan ketenangan dan keilmuan tiba-tiba saja diwarnai dengan kegaduhan di karnakan hal yang cukup biasa. hal yang sering di bicarakan, hala yang sering dibahas, topik yang selalu hangat di bicarakan di kalangan remaja. sering kali pacaran disalah artikan dan disalah gunakan dan dimasuk-masukan dalam katagori kebaikan.

kali ini, aa' tidak membahas secara detail tentang pacaran beserta akar-akarnya, tapi sedikit menyinggu tentang pacaran berkedok ta'aruf secara umum.

 يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ.

"Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal." (Q.S 49:13)

       Betapa indahnya Islam mengajarkan cara bersosialisa dan bemuamalah dengan cara yang luar biasa, tidak menjatuhkan dalam kesialan, selalu eksistensi dalam memegang rambu-rambu sopan santun, selalu mengedepankan moral dan tidak menjatuhnya dikarnakan seorang akan mulia jika moralnya mulia dan begitupun sebaliknya.
"Bukanlah misikin itu yang kehilangn orang tuanya, tapi yang miskin itu ketika ia kehilangan moralnya"
Islam selalu mengedapankan moral dan tidak menyampingkan yang lain, Allah yang Maha Pengasih mengajrakan kita melalui kalamNya, apalah arti seorang anak tampa orang tua, dan apalah arti seorang hampa tampa Rabbnya. kalau kita mencoba menelaah ayat di atas, sungguh indaha melahirkan keindahan dan tidak ada habisnya mentadaburinya,, Allah Subhanahu wa ta'aala menerangkan dan menjelaskan akan tujuan dan dampak dari dicipkannya manusia yang berlainan jenis, dikatakan kami menciptkan laki-laki dan perempuan tidak lain dan tidak bukan supaya agar kita mengenal satu sama lain. konsep yang kita pake adalah lafadz, bukanlah dikatakan agar supaya kamu berpacaran. sering kali kita para remaja selalu dan selau mengedepankan ego ketika berpicara pacaran. kenapa? karena setan tidak akan tinggal diam. tapi kan ta'aruf atau saling mengenal itu ada caranya, dan salah satunya bisa lewat pacaran.! itu adalah pemikiran sesat, dalam melahirkan kebaikan tidak ada pencampuran antara baik dan buruk 
 وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ.
"Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui. (Q.S 2 :42)

        Tapi dalam kamus Islam ga ada larangan pelangan pacaran tuh.! kata sapa? kenapa kita selalu dan selalu diperintahkan untuk mentadburi Al-Qur'an? itu semua agar kita selalu berpikir dan berpikir, dan sesungguhnya Allah lebih mengetahui dari pada kita. 
    وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا.
"Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk."  (Q.S 17:32)

suatu hal yang besar pasti awali dengan hal yang kecil, dan hal yang kecil pasti berakibat besar.. sama halnya dengan zina.. tidak mungkin tau-tau langsung zina. Nah ayat di atas begitu jelasnya dan Allah sudah mengaturnya sebelum tejadi. iya dalam islam tidak ada larangnanya, tapi dalam islam ada larangan akibatnya. larangan akibat berujung pada larangan yang menjerumus ke situ. dan juga kalau dilihat dari lafadznya adalah laranagn zina, yang dimaksud zina bukan hanya maaf berhubungan badan layaknya suami-istri, bisa saja zina mata, zina tangan, zina lidah dsb.
“Tercatat atas anak Adam nasibnya dari perzinaan dan dia pasti mengalaminya. Kedua mata zinanya melihat, kedua telinga zinanya mendengar, lidah zinanya bicara, tangan zinanya memaksa (memegang dengan keras), kaki zinanya melangkah (berjalan) dan hati yang berhasrat dan berharap. Semua itu dibenarkan (direalisir atau diwujudkan) oleh kelamin atau digagalkannya.” (HR. Bukhari)

       Kenapa harus diawali dengan pacaran? apa tidak ada yang lebih baik dan enak. pelarian pacaran yang berkedok ta'aruf bukanlah hal yang tepat, dikarnakan banyak yang pacaran tapi hidupnya tidak tenang dan menyalahi fitrah ta'aruf. selalu waswas khawatir diputusin..Loh? kok khawatir diputusin? pasti ada apa-apanya nih. masa' ta'aruf ada pembukaan dan penutupan, penutupan di akhiri dengan putus, bukan tamabah kacau?. sebenarnya orang-orang islam tahu akan larangan pacaran itu sendiri, tapi hawa nafsunya yang mengalahkannya, penuh dengan khawatiran dkk. kalau tidak pacaran nanti tidak dapat jodoh, kalau tidak pacaran khawatir nanti pas nikah ketahuan jeleknya, kalau tidak pacaran nikaha tidak harmonis dll. itu semua adalah pemikiran sesat. kata siapa harus di awali dengan pacaran? kita tengok Rasulullah dan para sahabatnya, apa mereka pacaran? kita harus meneladani mereka, jangan sampai kita bilang banyak juga yang di awali pacaran tapi hidupnya bahagia. berarti kita mengawali kebaiakn dengan kejelekan? apa untungnya? ketika prosesi nikah akan tersa indah dan luar biasa ketika kita tidak mengawali dengan pacaran, beda rasanya dengan yang diawali dengan pacaran.

         Prosesi ta'aruf banyak jalannya bisa dengan bertanya langsung pada orangnya, kalau malu bisa nanya pada saudaranya atau temannya atau gurunya. sesuatu yang di awali dengan indah akan berakhir dengan indah. pacaran bertolak belangkang dengan moral, kita lihat yahudi masa-masa remaja mereka dihabaiskan dengan belajar dan terus belajar, ketika ada yang berpacaran itu sudah aib buat dirinya dan keluarganya. kenapa kita umat islam malah membudayakan pacaran, ironis sekali padahal kita tahu hakikat pacaran itu. ingin nikah indah jangan pacaran.

          

Hakikat Sebuah Ilmu



Ditinjau dari segi bahasa, ilmu adalah lawan kata dari jahl yang berartikan bodoh. Dalam tinjauan Syaikh Muhammad Bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah mengatakan Ilmu adalah mengetahui sesuatu dengan pengetahuan yang sebenarnya”. Sedangkan menurut istilah adalah sesuatu yang jelas atau sebuah pengetahuan yang sudah pasti.

Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu:"Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
مَثَلُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ مِنْ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ الْغَيْثِ الْكَثِيرِ أَصَابَ أَرْضًا فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ قَبِلَتْ الْمَاءَ فَأَنْبَتَتْ الْكَلَأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتْ الْمَاءَ فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ فَشَرِبُوا وَسَقَوْا وَزَرَعُوا وَأَصَابَتْ مِنْهَا طَائِفَةً أُخْرَى إِنَّمَا هِيَ قِيعَانٌ لَا تُمْسِكُ مَاءً وَلَا تُنْبِتُ كَلَأً فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِينِ اللَّهِ وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ.
Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah mengutusku dengannya laksana hujan deras yang menimpa tanah. Di antara tanah itu ada yang subur, ia menerima air lalu menumpahkan tanaman dan rerumputan yang banyak. Di antaranya juga ada tanah kering yang menyimpan air. Lalu Allah member manusia manfaat darinya sehingga mereka meminumnya, mengairi tanaman, dan berladang dengannya. Hujan itu juga mengenai jenis (tanah yang) lain yaitu tandus. Itulah perumpamaan orang yabng memahami agama Allah, lalu ia mendapatkan manfaat dari apa yang Allah mengutus aku dengannya, maka ia berilmu dan mengajarkannya. Juga perumpamaan atas orang yang tidak menaruh perhatian terhadapnya, dann tidak menerima petunjuk Allah yang dengannya aku diutus”

Subhanallah ! begitu perhatiannya Islam meperhatikan ilmu, banyak dari Al-Qur’an, Hadist serta qaul ulama’ yang menyanyjung akan kedudukan ilmu. Dengan ilmu pula seorang akan mulia, memepunya kedudukan, serta mampunya cahaya yang akan menuntunnya ke ajalan yang di ridhoi oleh Allah. Jika ditinjau dari berbagai sisi, maka hakikat ilmu akan terasa begitu banyak sudut pandang dan haluan. Semua yang berbentuk pengetahuan, wawasan akan di katana ilmu.  
Imam al-Auza’ (wafat th.157) rahimahullah mengatakan :
العلم ما جاء عن أصحاب محمد صلّى اللّه عليه وسلم و ما لم يجئ عن واحد منهم فلييس بعلم .
 “Ilmu adalah apa yang berasal dari para sahabat Nabi Shallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun yang datang bukan dari seseorang dari mereka, maka itu bukan ilmu”
            Dari perkataan Imam Al Auza’ dapat diartikan bahawasannya ilmu adalah apa-apa yang didapatkan dari Nabi serta para sahabatnya, adapun yang bukan darinya maka itu hanya wawasan. ketika seseorang memiliki ilmu sudah sewajarnya ketika ia gunakan untuk tujuan mulia, tapi banyak di antara manusia yang mempunya ilmu ada yang di amalkan, disembunyikan dsb.. dalam hal itu ada tingkatan-tingkan ketika seorang berilmu.

Tingkatan ilmu pada seserang ada enam tingkatan :
1.      Al-Ilmu                       :  Yakni mengetahui sesuatu sesuai dengan keadaan yang sebenarnya dengan pengetahuan yang pasti.
2.      Al-Jahlu basith            : Yakni tidak mengetahui sesuatu sama sekali.
3.      Al-Jahlu murakkab      : Yakni mengetahui sesuatu tidak sesuai dengan yang sebenarnya, dikatakan murakkab karena pada orang tersebbut ada dua perihal sekaligus, yaitu bodoh karena tidak mengetahui perihal yang sebenarnya dan bodoh karena beranggapan bahwa dirinya tahu padahal sebenarnya ia tidak tahu.
4.      Azh-zhann                   : Yakni mengetahui sesuatu yang kemungkinan benarnya lebih besar dari pada kesalahannya.
5.      Al-wahm                     : Yakni mengetahui sesuatu dengan kemungkinan salah lebih besar dari pada kebenarannya.
6.      Asy-syakk                   : Yakni mengetahui sesuatu yang kemungkinan benar atau salahnya sama.

Imam Mujahid Bin Jabr (wafat th 104 H) rahmahullah mengatakan :
 “Orang yang faqih adalah rang yang takut kepada Allah meskipun ilmunya sedikit. Dan orang yang bodoh adalah orang yang berbuat durhaka kepada Allah meskipun lmunya banyak.”
Banyak orang yang mempunyai wawasan yang luas, cakupan keilmuannya setara dengan para cindekiawan, tapi keilmuan mereka tidak berdampak apapun terhadap mereka, meskipun mereka mengajarkan ilmu-ilmu mereka. Itu semua di karnakan apa yang mereka miliki tidak membawa mereka kepada ketaatan kepada Allah Ta’ala.

Imam Ibnu Rajab (wafatth 795 H) rahimahullah mengatakan :
“ Ilmu yang paling utama adalah ilmu tafsir Al-Qur’an,”
Imam Muhammad Bin Idris Asy-Syafi”I (wafat th.204 H) rahimahullah mengatakan :
كلّ الملوم سوى القراَن مشغلة،
                   إلاّ الحديث وإلاّ الفقه في الدّين،
العلم ما كان فيه قال حدّثنا،
                   ومال سوى ذاك وسواس الشّياطين. 
Seluruh ilmu selain Al-Qur’an hanyalah menyibukkan. Kecuali ilmu hadist dan fiqih dalam rangka mendalami ilmu agama. Ilmu adalah yang tercantum di dalamnya: ‘Qaalaa, haddatsanaa (telah menyapaikan hadits kepada kami. Adapun selain itu hanyalah wawas (bisikan) syaitan.”

Beruntunglah mereka yang mempunya kafaah keilmuan yang cukup digunakan untuk mencari keridhoan Allah dan bias menjadi manfaat bagi orang lain karena sebaik-baik manusia adalah yang mampu memberikan manfaat bagi orang lain. Alangkah indahnya ketika seorang berilmu ilmunya adalah ilmu akhirat, dan juga kita menafikkan seseorang yang mempunyai ilmu dunia. Sungguh kemulian hanya tertuju pada mereka yang mempunya ilmu baik ilmu dunia ataupun akhirat yang mampu menggunakanya untuk memajukan Islam dan Negara.
Wallahu a’lam